Jumat, 05 Desember 2014

Sastra Islam


Memaknai “Syi’ir Tanpo Waton” Sebagai Sarana Untuk Berdakwah
(Interpretasi Sastra Islam )

Dosen pengampu : Rizqa Ahmadi, Lc., M.A.

Oleh:
Lukluk Rahmawati

JURUSAN SASTRA ARAB
FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2014

Pendahuluan
Sastra menurut Siti Chamamah,2002:9 (dalam Wargadinata, 2008:3) merupakan Istilah yang digunakan untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial, ekonomi dan keagamaan keberadaannya tidak merupakan keharusan. Sastra mempunyai kedudukan, peran, dan kegunaan dalam masyarakat, dan itu semua senantiasa mengalami pergeseran dari waktu ke waktu dan perbedaan Antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya (Damono, 2005:6). Meskipun demikian, pada umumnya orang sepakat bahwa sastra dapat dipahami sebagai satu bentuk kegiatan manusia yang tergolong pada karya seni yang menggunakan bahasa sebagai bahan. 
Seiring dengan perkembangannya sastra kemudian dikaitkan dengan prespektif Islam, yakni jenis sastra yang memperhatikan aspek-aspek ajaran Islam. Namun konsep baku mengenai seni sastra dalam prespektif Islam sendiri belum dispakati secara menyeluruh. Meskupin demikian terdapat beberapa pendapat mengenai sastra Islam, diantaranya menurut Abdul Hadi, Sastra Islam adalah sumbangsih ummat Islam terhadap budaya dan peradaban serta sastra yang tak bisa dinafikan memiliki pandang dunia sendiri. Sastra Islam yang dibahas oleh Yons Ahmad dalam tulisan di wasathon.com lebih kepada Sastra Islam yang diartikulasikan oleh para aktivis dakwah, Irfan Hidayatullah salah satu penggiatnya menyebutnya lebih spesifik sebagai sastra dakwah.
Pembagian sastra dalam Islam -sebagaimana sastra pada umumnya- secara garis besar terbagi atas dua jenis yaitu puisi dan prosa. Salah satu perbedaan antar keduanya yakni terletak pada bentuk. Pada prosa bentuknya bebas dan tidak terikat. Sedangkan puisi bentuk dan strukturnya terikat. Keindahan sebuah puisi disebabkan oleh diksi, majas, rima, dan irama yang terkandung dalam karya sastra tersebut. Adapun kekayaan makna yang terkandung dalam puisi disebabkan oleh pemadatan segala unsur bahasa. Bahasa yang digunakan dalam puisi berbeda dengan yang digunakan dalam sehari-hari. Puisi menggunakan bahasa yang ringkas, namun kaya makna Kata-kata yang digunakannya adalah kata-kata konotatif yang mengandung banyak penafsiran dan pengertian.
Puisi atau disebut Syi’ir dalam sastra Islam berbentuk karangan terikat yang mengandung kekayaan makna di dalamnya. Makna tersebut mengandung unsur-unsur ajaran Islam, berbentuk nasehat dan bertujuan untuk berdakwah mengajak kepada Islam yang mengajarkan tentang kebenaran dan kebaikan sebagaimana tujuan dari sastra Islam itu sendiri. Syi’ir sebagai salah satu bentuk puisi yang berkembang di kalangan masyarakat nusantara terutama daerah Jawa di kalangan santri. Fungsi utama syi’ur itu sendiri adalah sebagai sarana untuk berdakwah dan mengajak kepada kebaikan. Sebagaimana Muzakka (1999) dan Muzakka dkk. (2002) mengemukakan tiga fungsi utama syi’ir, yaitu fungsi hiburan, fungsi pendidikan dan pengajaran, dan fungsi spiritual.
Fungsi hiburan muncul karena hadirnya syi’ir dalam khazanah sastra selalu dinyanyikan baik dengan iringan musik tertentu maupun tidak; fungsi pendidikan dan pengajaran muncul karena di samping syi’ir mengekspresikan nilai-nilai dedaktis, yakni pendidikan nilai-nilai moral Islam dan pengetahuan Islam yang kompleks, syi’ir juga digunakan sebagai bahan ajar dan atau media pengajaran di kalangan masyarakat santri. Fungsi spiritual muncul karena sebagian besar syi’ir diberlakukan penggunaanya semata-mata sebagai upaya penghambaan diri (ibadah) kepada Tuhan yakni untuk mempertebal rasa keimanan dan ketakwaan. Ketiga fungsi tersebut sangat berkait erat sehingga sulit untuk dipisahkan satu dengan yang lain. Sebab bagi pendukungnya, syi’ir memberikan spirit untuk beribadah dan memberikan ilmu pengetahuan dengan cara yang sangat menyenangkan.
Salah satu puisi atau syair dalam sastra Islam adalah puisi dalam bahasa Jawa yang berjudul “Syi’ir tanpo waton” karya KH Moh. Nizam As-Shofa. Syi’ir ini sering dikumandangkan di masjid-masjid atau sering didengar dalam suatu kelompok tertentu dalam Islam. Diantara makna-maknanya berupa nasehat kepada manusia khususnya saudara-saudara sesama muslim untuk kembali kepada AlQuran dan Hadits, tidak saling tuduh menuduh dan mengajak untuk memperbaiki akhlak. Diantara  cuplikan dalam syair tersebut sebgai berikut.
Akeh kang apal Qur’an Haditse
Seneng ngafirke marang liyane
Kafire dewe dak digatekke
Yen isih kotor ati akale 2X
Artinya :
Banyak yang hapal Qur’an dan Haditsnya
Senang mengkafirkan kepada orang lain
Kafirnya sendiri tak dihiraukan
Jika masih kotor hati dan akalnya
Potongan syair di atas menjelaskan banyaknya orang yang hafal Al-Qur”an dan Hadist tapi belum bisa menganbil intisari dari hadist dan AL-Qur”an itu sendiri.
Dari uraian diatas maka dalam tulisan ini bermaksud akan membahas mengenai makna-makna apa saja yang terkandung dalam syair yang berjudul “Syi’ir tanpo waton” karya KH Moh. Nizam As-Shofa. Selain itu juga akan membahas kandungan nilai-nilai ajaran Islam dan pesan moral yang bersifat untuk mengajak kepada Islam dan menasehati umat manusia agar kembali kepada ajaran Islam sebagaimana yang diajarkan dalam Islam. Hasil dari tulisan ini digharapkan dapat membawa manfaat khususnya bagi umat Islam sendiri dan umumnya kepada semua manusia. Selain itu juga dapat menambah wawasan di bidang ilmu sastra khususnya sastra yang di dalamnya mengandung nilai-nilai ajaran Islam.



A.    Analisis Syair “Syi’ir tanpo waton”
A.1 Analisis dari segi Pemaknaan


Syi’ir tanpo waton
استغفر الله ربّ البرايا # استتغفر الله من الخطا يا
ربّي زدني علما نافعا # ووفّقني عملا صالحا
يا رسول الله سلام عليك # يا رفيع الشان و الدرج
عطفة يا جيرة العالم # يا أهَيلالجود والكرم

Ngawiti ingsun nglaras syi'iran # Kelawan muji maring pengeran
Kang paring rohmat lan kenikmatan # Rino wengine tanpo pitungan
Rino wengine tanpo pitungan...
Duh bolo konco priyo wanito # Ojo mung ngaji syare'at bloko
Gur pinter ndongeng nulis lan moco # Tembe mburine bakal sangsoro
Tembe mburine bakal sangsoro...
Akeh kang apal Qur'an Haditse # Seneng ngafirke marang liyane
Kafire dewe dak digatekke # Yen isih kotor ati akale
Yen isih kotor ati akale...
Gampang kabujuk nafsu angkoro # Ing pepaese gebyare donyo
Iri lan meri sugihe tonggo # Mulo atine peteng lan nisto
Mulo atine peteng lan nisto...
Ayo sedulur jo nglaleake # Wajibe ngaji sa'pranatane
Nggo ngandelake iman tauhide # Baguse sangu mulyo matine
Baguse sangu mulyo matine...
Kang aran sholeh bagus atine # Kerono mapan seri ngelmune
Laku thoriqot lan ma'rifate # Ugo haqiqot manjing rasane
Ugo haqiqot manjing rasanee...
Al-Qur'an Qodim wahyu minulyo # Tanpo tinulis iso diwoco
Iku wejangan guru waskito # Den tancepake ing jero dodo
Den tancepake ing jero dodo...
Kumantil ati lan pikiran # Mrasuk ing badan kabeh jeroan
Mu'jizat rosul dadi pedoman # Minongko dalan manjinge iman
Minongko dalan manjinge
Kelawan Alloh kang moho suci # Kudu rangkulan rino lan wengi
Ditirakati diriyadlohi # Dzikir lan suluk jo nganti lali
Dzikir lan suluk jo nganti lali...
Uripe ayem rumongso aman # Dununge roso tondo yen iman
Sabar narimo nadjan pas-pasan # Kabeh tinakdir saking pengeran
Kabeh tinakdir saking pengeran...
Kelawan konco dulur lan tonggo # Kang podo rukun ojo dursilo
Iku sunnahe rosul kang mulyo # Nabi Muhammad panutan kito
Nabi Muhammad panutan kito...
Ayo nglakoni sekabehane # Alloh kang bakal ngangkat drajate
Senadjan asor toto dzohire # Ananging mulyo maqom drajate
Ananging mulyo maqom drajate...
Lamun palastro ing pungkasane # Ora kesasar roh lan sukmane
Den gadang Alloh swargo manggone # Utuh mayite ugo ulese
Utuh mayite ugo ulese...

يا رسول الله سلام عليك # يا رفيع الشان و الدرج
عطفة يا جيرة العالم # يا أهَيلالجود والكرم

Terjemahan dalam Bahasa Indonesia
استغفر الله ربّ البرايا # استتغفر الله من الخطا يا
ربّي زدني علما نافعا # ووفّقني عملا صالحا
يا رسول الله سلام عليك # يا رفيع الشان و الدرج
عطفة يا جيرة العالم # يا أهَيلالجود والكرم


Aku memulai menembangkan (menyanyikan) sya’ir # Dengan memuji kepada Tuhan
Yang memberi rahmat dan kenikmatan # Siang dan malam tanpa perhitungan
Wahai para sahabat pria dan wanita # jangan hanya belajar syari’at saja
Hanya pandai mendongeng (bicara),menulis dan membaca # Akhirnya hanya akan sengsara
Banyak yang hafal al-Qur’an dan hadistnya # Suka mengkafirkan orang lain
Kekafirannya sendiri tidak diperhatikan # Kalau masih kotor hati dan akalnya
Mudah tertipu nafsu angkara # Dalam hiasan gemerlapnya dunia
Iri dan dengki kekayaan tetangga # Maka hatinya gelap dan nista
Mari saudara jangan melupakan # Kewajiban mengaji (belajar) lengkap dengan aturannya
Untuk menebalkan iman tauhidnya # Bagusnya bekal mulia matinya
Yang disebut orang shaleh itu bagus hatinya # Karena sempurna seri keilmuannya
Melakukan thariqat dan ma’rifatnya # Juga hakekat meresap rasanya
Al-qur’an qodhim wahyu yang mulia # Tanpa ditulis bisa dibaca
Itu wejangan (pesan) guru yang waskita # Ditancapkan ke dalam dada
tergantung (tertempel) di hati dan pikiran # Merasuk ke dalam badan dan tubuh
Mu’jizat rasul ( Al-qur’an ) jadi pedoman # Sebagai jalan masuknya iman
Kepada Allah yang Maha suci # Harus berpelukan (mendekatkan diri) siang dan malam
Diusahakan dan dilatih # Dzikir dan suluk jangan sampai dilupakan
Hidupnya tentram dan merasa aman # Itulah perasaan tanda beriman
Sabar menerima meskipun (hidup) pas-pasan # Semua sudah ditakdirkan dari Tuhan
Terhadap teman , saudara dan tetangga # Rukunlah jangan bertengkar
Itu sunnah Rasul yang mulia # Nabi Muhammad suri tauladan kita
Mari jalani semuanya # Allah yang akan mengangkat derajatnya
Meskipun rendah secara lahiriah # Namun mulia kedudukan derajatnya disisi Allah
Ketika ajal telah datang di Akhir # Tidak tersesat roh dan sukma(raga)nya
Disanjung Allah surga tempatnya # Utuh (lengkap) jasadnya juga kain kafannya

يا رسول الله سلام عليك # يا رفيع الشان و الدرج
عطفة يا جيرة العالم # يا أهَيلالجود والكرم

Syair yang berjudul “Syi’ir tanpo waton” karya KH Moh. Nizam As-Shofa ini merupakan syi’ir yang kontrofersi mengenai siapa yang menciptakannya. Sudah beberapa tahun ini gelegar Syi’ir Tanpo Waton terdengar mengumandang di setiap sudut sudut musholla maupun di tempat-tempat peribadatan Islam lainnya, tidak hanya itu syi’ir ini juga sudah dikenal ribuan bahkan jutaan di kalangan umat Islam sendiri. Namun dari ketenaran dan kebesaran Syi’ir ini masih banyak sekali sudut sudut kontroversi tentang siapa yang menciptakan dan melantunkaan Syiir ini. Satu sisi banyak sekali pihak yang mengatakan ini adalah karya besar dari KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur), namun juga hingga saat ini tidak ada bukti yang nyata tentang kebenaran fakta ini. Pencipta syi’ir ini sebenarnya adalah KH. Muhammad Nizam As-shofa atau yang lebih popular dengan nama Gus Nizam. Selain dikenal sebagai seorang kyai, Gus Nizam juga sering mendendangkan banyak Sholawat atau syair. Karena dengan sholawat atau syair seseorang akan lebih mudah memahami pesan yang ingin di sampaikan.
Terlepas dari polemik mengenai penciptaannya, syi’ir ini memiliki makna yang begitu dalam. Penyampaiannya menggunakan bahasa Jawa, berisi nasehat dan wejangan untuk umat manusia khususnya umat Islam itu sendiri. Berikut analisis Syi’ir tanpo waton” karya KH Moh. Nizam As-Shofa dari segi pemaknaannya.
    Syair ini diawali dengan ucapan istighfar meminta ampun kepada Allah dan sholawat kepada nabi Muhammad SAW. Hal ini terdapat pada pembukaan sya’ir yang berbunyi “استغفر الله ربّ البرايا # استتغفر الله من الخطا يا ”. Dalam sya’ir ini terdapat 14 bait. Pada bait pertama sya’ir ini berbunyi “Ngawiti ingsun nglaras syi'iran , Kelawan muji maring pengeran. Kang paring rohmat lan kenikmatan , Rino wengine tanpo pitungan”. Dari sinilah sebagai awalan bait syair pengarang memuji kepada Allah SWT telah memberikan  rahmat dan kenikmatan kepada menusia pada siang dan malam dan yang tak henti-hentinya tanpa perhitungan.
    Bait selanjutnya berisi nasehat dan wejangan yang ditujukan kepada umat Islam baik laki-laki maupun perempuan. Pengarang mengawalinya dengan seruan memanggil “Duh bolo konco priyo wanito” yang artinya “wahai para sahabat, pria dan wanita”. Kemudian pengarang mulai dengan nasehat pertamanya yaitu berbunyi “Ojo mung ngaji syare'at bloko
Gur pinter ndongeng nulis lan moco, Tembe mburine bakal sangsoro” yang artinya “jangan hanya belajar syari’at saja. Hanya pandai mendongeng (bicara),menulis dan membaca. Akhirnya hanya akan sengsara”. Dari potongan bait ini menunjukkan sikap pengarang yang prihatin terhadap realita kehidupan modern dalam masyarakat. Menurut syair itu, masyarakat cenderung belajar membaca tanpa memahami isi dari apa yang dia baca. Pengarang memberikan nasehat pertamanya agar tidak hanya pandai dalam hal syari’at saja, namun akhlak juga harus diperhatikan. Kemudian penggarang menjelaskan lagi pada bait selanjutnya yaitu; “Akeh kang apal Qur'an Haditse. Seneng ngafirke marang liyane. Kafire dewe dak digatekke. Yen isih kotor ati akale. Gampang kabujuk nafsu angkoro. Ing pepaese gebyare donyo. Iri lan meri sugihe tonggo. Mulo atine peteng lan nisto”.
    Pesan utama yang disampaikan pengarang dalam nasehat pertamanya itu adalah mengajak pembaca dan pendengar untuk belajar agama Islam secara menyeluruh, yakni syariat, thoriqot, makrifat, dan haqiqot. Sebab dengan mempelajari semua itu akan menjadikan seseorang kuat iman dan tauhidnya. Bila seseorang hanya belajar syariat, maka orang itu akan menjadi keras hatinya. Jika melihat segala sesuatu yang berbeda dengan dirinya atau melihat penafsiran sebuah ayat Alquran yang berbeda dengannya atau kelompoknya maka orang itu akan mudah memvonis atau menhklaim kafir terhadap seseorang atau kelompok yang berbeda dengan diri dan kelompoknya. Pengarang menggambarkan bahwa sekarang ini hal semacam itu sudah banyak terjadi banyak orang yang belajar pada tataran syariat saja. Mereka memang hafal ayat Alquran dan hadist Nabi, tetapi mereka menganggap kafir terhadap orang lain yang berbeda paham dengannya. Menurut pengarang, orang yang demikian itu dianggap belum mampu menahan hawa nafsunya Karena hatinya masih kotor atau masih ada sifat kufur yang membelenggunya.
Nasehat berikutnya adalah terdapat pada bait selanjutnya yang berbunyi “Ayo sedulur jo nglaleake. Wajibe ngaji sa'pranatane. Nggo ngandelake iman tauhide. Baguse sangu mulyo matine Kang aran sholeh bagus atine.Kerono mapan seri ngelmune. Laku thoriqot lan ma'rifate. Ugo haqiqot manjing rasane. Al-Qur'an Qodim wahyu minulyo. Tanpo tinulis iso diwoco. Iku wejangan guru waskito.Den tancepake ing jero dodo. Kumantil ati lan pikiran. Mrasuk ing badan kabeh jeroan. Mu'jizat rosul dadi pedoman . Minongko dalan manjinge iman”.
Pada bait tersebut pengarang (penyair) mengingatkan agar mengkaji ilmu agama beserta maknanya. Selain itu, juga mengajak pembaca dan atau pendengar untuk menjadi orang sholih, yakni orang yang arif dan bijaksana karena pemahaman ilmu agamanya cukup mendalam. Tanda orang yang demikian itu adalah selalu menjalankan laku toriqot, makrifat, hingga haqiqot; yaitu selalu berzikir, berdoa, dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT pada waktu siang dan malam. Orang yang demikian itu tentu hidupnya merasa aman dan nyaman. Tanda orang sholih yang lain adalah selalu menebar cinta kasih sesama dalam berteman, bertetangga, dan berbangsa. Meskipun secara lahir hidupnya serba pas-pasan dan kedudukannya rendah di tengah masyarakat, mereka tetap bersabar dengan penuh rasa syukur. Mereka jauh dari sifat iri, dengki, dan hasud terhadap orang yang lebih sukses darinya.
Pada bagian akhir sya’ir yang berbunyi “Ayo nglakoni sekabehane. Alloh kang bakal ngangkat drajate. Senadjan asor toto dzohire. Ananging mulyo maqom drajate. Lamun palastro ing pungkasane.Ora kesasar roh lan sukmane. Den gadang Alloh swargo manggone.Utuh mayite ugo ulese”  penyair menyerukan agar pembaca atau pendengar mengikuti semua nasehatnya dan mengikuti perilaku orang sholih. Sebab orang yang berbuat demikian itu akan diangkat derajatnya oleh Allah yakni akan ditempatkan pada tempat yang mulia di sisi-Nya. Jika mereka meninggal dunia, Allah SWT akan menyambutnya dan menempatkannya di dalam surga.


A.2. Analisis segi Uslub sya’ir

Puisi merupakan bentuk karya sastra yang bentuknya terikat, mempunyai kekayaan makna dan keindahan bahasa. Sehingga terkadang dalam memaknainyapun juga memerlukan analisis dan menafsirkan. Sebuah puisi dapat mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama. Semua itu merupakan sesuatu yang penting, yang direkam dan diekspresikan, dinyatakan dengan bentuk menarik dan memberi kesan. Puisi itu merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, digubah dalam wujud yang paling berkesan (Pradopo, 1995:7 dalam Kusmayadi: 2007).
 Keindahan sebuah puisi disebabkan oleh diksi, majas, rima, dan irama yang terkandung dalam karya sastra tersebut. Adapun kekayaan makna yang terkandung dalam puisi disebabkan oleh pemadatan segala unsur bahasa. Bahasa yang digunakan dalam puisi berbeda dengan yang digunakan dalam sehari-hari. Puisi menggunakan bahasa yang ringkas, namun kaya makna Kata-kata yang digunakannya adalah kata-kata konotatif yang mengandung banyak penafsiran dan pengertian.
Puisi atau disebut Syi’ir dalam sastra Islam berbentuk karangan terikat yang mengandung kekayaan makna di dalamnya. Makna tersebut mengandung unsur-unsur ajaran Islam, berbentuk nasehat dan bertujuan untuk berdakwah mengajak kepada Islam yang mengajarkan tentang kebenaran dan kebaikan sebagaimana tujuan dari sastra Islam itu sendiri. Syi’ir sebagai salah satu bentuk puisi yang berkembang di kalangan masyarakat nusantara terutama daerah Jawa di kalangan santri. Fungsi utama syi’ur itu sendiri adalah sebagai sarana untuk berdakwah dan mengajak kepada kebaikan. Sebagaimana Muzakka (1999) dan Muzakka dkk. (2002) mengemukakan tiga fungsi utama syi’ir, yaitu fungsi hiburan, fungsi pendidikan dan pengajaran, dan fungsi spiritual.
Salah satu bentuk puisi adalah syair yang merupakan simbol bahasa yang digunakan oleh komponis dalam mengekspresikan perasaan untuk mempermudah pendengar dalam mencerna karya musiknya. Lagu daerah biasanya memakai bahasa daerah tersebut dalam menuturkan isi lagunya. Dalam syair terkadang komponis mengadakan perulangan. Pengulangan melodi atau syair merupakan salah satu cara untuk memberi penekanan pada emosi lagu tersebut. Sajak syair dalam susunan vertikal pada akhir baris atau frase musik, syair lagu pada musik daerah dapat bervariasi. Syair yang bersajak sama (aaaa, bbbb), bersajak selang (abab), bersajak peluk (abba), bersajak pasang (aabbcc), atau bersajak patah (abcb, aaba).
Puisi “Syi’ir tanpo waton” karya KH Moh. Nizam As-Shofa adalah sa;ah satu contoh karya sastra Islam. Karena dari segi maknanya mengandung bilai-nilai ajaran Islam dan berisi wejangan atau nasehat. Begitu juga dipandang dari segi uslub atau gaya bahasanya yang indah. Penyair menggunakan bahasa Jawa ngoko halus agar dapat diterima oleh semua kalangan masyarakat jawa khusunya masyarakat awam yang dalam kesehariaanya menggunakan bahasa Jawa.
Begitu juga dengan pilihan kata yang sederhana dan lugas serta tidak banyak menggunakan majas namun kata-karanya memiliki makna yang sangat dalam menjadikan amanat dalam syi’ir ini mudah dicerna. Dengan memanfaatkan irama lagu shalawat Nabi, senandung syi’ir itu pun mampu “menembus” relung hati pembaca dan pendengarnya sehingga menjadi terasa lembut, tawadhu’, cinta harmoni, bahkan mampu menebalkan iman. Lirik syi’ir ini cukup mudah diterima oleh masyarakat karena dibangun oleh unsur bunyi yang kuat, yaitu penggunan asonansi, aliterasi, dan rima yang menonjol sehingga sangat merdu ketika dilantunkan.

B.    Syi’ir tanpo waton Sebagai Sarana untuk Berdakwah

Dakwah secara bahasa berarti mengajak, yakni mengajak dan menyeru kepada ajaran Islam, berbuat ma’ruf (kebaikan) dan menjauhi kemunkaran (keburukan). Perintah untuk berdakwah itu sendiri telah diwajibkan oleh Allah dalam AlQuran. Penyampaian dakwah juga telah diajarkan Nabi Muhammad SAW, diantaranya yaitu berdakwah sesuai dengan bahasa kaumnya. Dalam hal ini dapat diartikan bahwa penyampaian dalam berdakwah dapat menyesuaikan dengan keadaan masyarakat yang didakwahinya. Termasuk juga di Indonesia terutama di tanah Jawa, dakwah dapat disalurkan melalui tradisi-tradisi yang ada pada mayarakat tersebut. Masyarakat Jawa merupakan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi sejak zaman luluhur mereka. Oleh karenanya penyampaian dakwah tidak dapat secara langsung serta merta mengajarkan agama Islam. 
Salah satu media dalam berdakwah dapat melalui seni. Salah satu seni yang dapat dijadikan media dakwah adaah seni sastra. Melalui karya-karya sastra seperti puisi, sya’ir, prosa yang di dalamnya disisipkan nilai-nilai ajaran Islam, akhlak dan seruan untuk berbuat kebaikan. Hal ini sebagaimana telah dilakukan sejak zaman para Walisongo ketika awal masuk agama Islam ke Nusantara yang kemudian dilanjutkan oleh para ulama. Mula-mula para ulama mengajarkannya di kalangan santri kemudian berlanjut hingga menyebar ke masyarakat luas.
Kesinambungan dakwah yang dilakukan oleh ulama Islam di Jawa terdahulu juga sangat mempengaruhi dakwah pada saat ini. dakwah modern tidak lagi memandang nasab, tetapi lebih pada kelangsungan kelompok-kelompok Islam yang terbentuk. Islam di tanah Jawa yang memiliki nilai mistik yang masih kental ternyata juga menjadi satu ciri dalam penyampaian Islam di era modern. Disamping juga tradisi pondok pesantren dan juga metode ceramah yang dilakukan para kiai ke berbagai desa, juga dilakukan oleh para pemilik kesenian seperti gamelan, wayang dan kesenian lainnya juga masih digunakan dalam metode berdakwah. Akhir-akhir ini terdapat metode syair yang sedang berkembang di maysarakat Indonesia. Hal ini menjadi dampak ketika pengaruh budaya musik di Indonesia sedang marak, lebih lagi musik-musik luar negeri yang tidak mempunyai nilai spiritual telah mempengaruhi masyarakat Indonesia, maka sangat tepat ketika suatu syair menjadi bentuk perlawanan juga menjadi metode dalam dakwah Islam.
Syi’ir tanpo waton adalah salah satu Syi’ir yang memiliki makna nasehat dan wejangan dari seorang kyai. Sya’ir ini berisi seruan kepada ajaran Islam dan akhlak sebagamana tujuan dan fungsi dari sastra Islam. Oleh karenya sya’ir ini dapat dijadikan sebagai sarana untuk berdakwah.  Syi’ir tanpo waton diciptakan di tanah Jawa dan ditujukan untuk seluruh umat manusia khususnya umat Islam di Jawa. Disamping bahasa yang digunakan masih sangat tradisional juga nilai yang disampaikan seakan masuk dalam wilayah sufistik sehingga tidak banyak masyarakat yang mampu menerima Sya’ir tersbut.
Diantara bait sya’ir yang berisi seruan dakwah terdapat pada lirik berikut; “Duh bolo konco priyo wanito” yang artinya “wahai para sahabat, pria dan wanita”. Kemudian dilanjutkan dengan nasehat pertamanya yaitu berbunyi “Ojo mung ngaji syare'at bloko
Gur pinter ndongeng nulis lan moco, Tembe mburine bakal sangsoro”. Dari potongan bait ini menunjukkan pengarang mengajak pembaca dan pendengar untuk belajar agama Islam secara menyeluruh, tidak hanya belajar syariat saja, namun juga akhlak. Sebab dengan mempelajari semua itu akan menjadikan seseorang kuat iman dan tauhidnya. Bila seseorang hanya belajar syariat, maka orang itu akan menjadi keras hatinya. Selain itu seruan untuk berdakwah juga dapat ditemukan dalam bait yang berbunyi “Ayo sedulur jo nglaleake. Wajibe ngaji sa'pranatane. Nggo ngandelake iman tauhide. Baguse sangu mulyo matine Kang aran sholeh bagus atine”. Nasihat ini bermakna mengajak kepada para pendengar atau pembaca untuk mengkaji Islam dan mengamalkannya. Tidak hanya membaca kitabnya saja, namun juga mengamalkannya, dan mempertebal keimanannya. Selain itu juga mengajak untuk memperbaiki akhlak. Dalm hal ini yang diperhatikan adalah peran hati untuk memperbagus akhlak, versikap tawadhu’dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT itulah yang disebut orang yang shaleh.
Dari uraian di atas cukup jelas bahwa syi’ir sebagai puisi Jawa yang berkembang di kalangan masyarakat santri dapat dijadikan sebagai sumber dan media dakwah yang dapat membentuk pribadi-pribadi Jawa yang arif, santun, toleran, dan berkasihsayang terhadap sesama manusia.

C.    Kesimpulan
Puisi dalam sastra Islam berbentuk karya satra yang terikat, mempunyai keindahan bahasa dan memiliki kekayaan makna. Di dalamnya terdapat nilai-nilai ajaran agama Islam dan dapat dugunakan sebagai sarana untuk berdakwah. Salah satu karya sastra berbentuk puisi dalam sastra Islam adalah sya’ir yang berjudul “Syi’ir tanpo waton” karya KH Moh. Nizam As-Shofa.
Syi’ir tanpo waton memiliki nilai seni yang tinggi, meskipun terdengar seperti seni tradisional, yang masih menggunakan bahasa jawa kuno bercampur modern, juga bernada seperti Syi’ir-syi’ir kuno. Munculnya Syi’ir itu juga sebagai jawaban atas tantangan Islam dalam dakwahnya di era modern ini. Karena munculnya Syi’ir itu menjadi filter ditengah-tengah membuminya budaya barat yang kian marak di masyarakat.
    Dalam Syi’ir tanpo waton ini mengandung nilai-nilai dakwah Islam yang tingggi yakni  mengajarkan bahwa seseorang hendaknya mempelajari Islam secara menyeluruh tidak hanya syariat namun juga akhlak serta mengajak untuk tidak hanya membaca AlQuran dan Hadits namun juga mengamalkannya. Selain itu makna dalam setiap bait Syi’ir tersebut menjadikan manusia dibimbing menuju sebuah proses dalam mendekatkan diri kepada Allah.


D.    Daftar Pustaka
Kusmayadi, Ismail. 2007. Think Smart Bahasa Indonesia untuk Kelas XII SMA/MA Program Bahasa. Jakarta: Grafindo.
Muzakka, Moh. 1989. “Analisis Struktur Syair Paras Nabi”. Semarang: Skripsi Fakultas Sastra Undip.
Muzakka, Moh.1999. “Tanwiru ‘l-Qari’ sebagai Penyambut Teks Tajwid Tuchfatu ‘l-Athfal: Analisis Resepsi”. Yogyakarta: Tesis S2 UGM.
Muzakka dkk, Moh. 2002. “Kedudukan dan Fungsi Singir bagi Masyarakat Jawa. Laporan Penelitian Fakultas Sastra.
Wargadinata,Wildana. 2008. Sastra Arab dan Lintas Budaya. Malang: UIN Malang Pers.
Supriyadie. 2008. http://sastra-muslim.blogspot.com/2011/04/tidaklah-mudah-untuk-membuat pembabakan.html#more. Diunduh pada 24 Mei 2014 14.11
 http://www.harianbangsa.com. Di unduh pada tanggal 06 Juni 2014



Tidak ada komentar:

Posting Komentar