Memaknai “Syi’ir Tanpo Waton” Sebagai Sarana Untuk Berdakwah
(Interpretasi Sastra Islam )
Dosen pengampu : Rizqa Ahmadi, Lc., M.A.
Oleh:
Lukluk Rahmawati
JURUSAN SASTRA ARAB
FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2014
Pendahuluan
Sastra menurut Siti Chamamah,2002:9 (dalam Wargadinata, 2008:3) merupakan Istilah yang digunakan untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial, ekonomi dan keagamaan keberadaannya tidak merupakan keharusan. Sastra mempunyai kedudukan, peran, dan kegunaan dalam masyarakat, dan itu semua senantiasa mengalami pergeseran dari waktu ke waktu dan perbedaan Antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya (Damono, 2005:6). Meskipun demikian, pada umumnya orang sepakat bahwa sastra dapat dipahami sebagai satu bentuk kegiatan manusia yang tergolong pada karya seni yang menggunakan bahasa sebagai bahan.
Seiring dengan perkembangannya sastra kemudian dikaitkan dengan prespektif Islam, yakni jenis sastra yang memperhatikan aspek-aspek ajaran Islam. Namun konsep baku mengenai seni sastra dalam prespektif Islam sendiri belum dispakati secara menyeluruh. Meskupin demikian terdapat beberapa pendapat mengenai sastra Islam, diantaranya menurut Abdul Hadi, Sastra Islam adalah sumbangsih ummat Islam terhadap budaya dan peradaban serta sastra yang tak bisa dinafikan memiliki pandang dunia sendiri. Sastra Islam yang dibahas oleh Yons Ahmad dalam tulisan di wasathon.com lebih kepada Sastra Islam yang diartikulasikan oleh para aktivis dakwah, Irfan Hidayatullah salah satu penggiatnya menyebutnya lebih spesifik sebagai sastra dakwah.
Pembagian sastra dalam Islam -sebagaimana sastra pada umumnya- secara garis besar terbagi atas dua jenis yaitu puisi dan prosa. Salah satu perbedaan antar keduanya yakni terletak pada bentuk. Pada prosa bentuknya bebas dan tidak terikat. Sedangkan puisi bentuk dan strukturnya terikat. Keindahan sebuah puisi disebabkan oleh diksi, majas, rima, dan irama yang terkandung dalam karya sastra tersebut. Adapun kekayaan makna yang terkandung dalam puisi disebabkan oleh pemadatan segala unsur bahasa. Bahasa yang digunakan dalam puisi berbeda dengan yang digunakan dalam sehari-hari. Puisi menggunakan bahasa yang ringkas, namun kaya makna Kata-kata yang digunakannya adalah kata-kata konotatif yang mengandung banyak penafsiran dan pengertian.
Puisi atau disebut Syi’ir dalam sastra Islam berbentuk karangan terikat yang mengandung kekayaan makna di dalamnya. Makna tersebut mengandung unsur-unsur ajaran Islam, berbentuk nasehat dan bertujuan untuk berdakwah mengajak kepada Islam yang mengajarkan tentang kebenaran dan kebaikan sebagaimana tujuan dari sastra Islam itu sendiri. Syi’ir sebagai salah satu bentuk puisi yang berkembang di kalangan masyarakat nusantara terutama daerah Jawa di kalangan santri. Fungsi utama syi’ur itu sendiri adalah sebagai sarana untuk berdakwah dan mengajak kepada kebaikan. Sebagaimana Muzakka (1999) dan Muzakka dkk. (2002) mengemukakan tiga fungsi utama syi’ir, yaitu fungsi hiburan, fungsi pendidikan dan pengajaran, dan fungsi spiritual.
Fungsi hiburan muncul karena hadirnya syi’ir dalam khazanah sastra selalu dinyanyikan baik dengan iringan musik tertentu maupun tidak; fungsi pendidikan dan pengajaran muncul karena di samping syi’ir mengekspresikan nilai-nilai dedaktis, yakni pendidikan nilai-nilai moral Islam dan pengetahuan Islam yang kompleks, syi’ir juga digunakan sebagai bahan ajar dan atau media pengajaran di kalangan masyarakat santri. Fungsi spiritual muncul karena sebagian besar syi’ir diberlakukan penggunaanya semata-mata sebagai upaya penghambaan diri (ibadah) kepada Tuhan yakni untuk mempertebal rasa keimanan dan ketakwaan. Ketiga fungsi tersebut sangat berkait erat sehingga sulit untuk dipisahkan satu dengan yang lain. Sebab bagi pendukungnya, syi’ir memberikan spirit untuk beribadah dan memberikan ilmu pengetahuan dengan cara yang sangat menyenangkan.
Salah satu puisi atau syair dalam sastra Islam adalah puisi dalam bahasa Jawa yang berjudul “Syi’ir tanpo waton” karya KH Moh. Nizam As-Shofa. Syi’ir ini sering dikumandangkan di masjid-masjid atau sering didengar dalam suatu kelompok tertentu dalam Islam. Diantara makna-maknanya berupa nasehat kepada manusia khususnya saudara-saudara sesama muslim untuk kembali kepada AlQuran dan Hadits, tidak saling tuduh menuduh dan mengajak untuk memperbaiki akhlak. Diantara cuplikan dalam syair tersebut sebgai berikut.
Akeh kang apal Qur’an Haditse
Seneng ngafirke marang liyane
Kafire dewe dak digatekke
Yen isih kotor ati akale 2X
Artinya :
Banyak yang hapal Qur’an dan Haditsnya
Senang mengkafirkan kepada orang lain
Kafirnya sendiri tak dihiraukan
Jika masih kotor hati dan akalnya
Potongan syair di atas menjelaskan banyaknya orang yang hafal Al-Qur”an dan Hadist tapi belum bisa menganbil intisari dari hadist dan AL-Qur”an itu sendiri.
Dari uraian diatas maka dalam tulisan ini bermaksud akan membahas mengenai makna-makna apa saja yang terkandung dalam syair yang berjudul “Syi’ir tanpo waton” karya KH Moh. Nizam As-Shofa. Selain itu juga akan membahas kandungan nilai-nilai ajaran Islam dan pesan moral yang bersifat untuk mengajak kepada Islam dan menasehati umat manusia agar kembali kepada ajaran Islam sebagaimana yang diajarkan dalam Islam. Hasil dari tulisan ini digharapkan dapat membawa manfaat khususnya bagi umat Islam sendiri dan umumnya kepada semua manusia. Selain itu juga dapat menambah wawasan di bidang ilmu sastra khususnya sastra yang di dalamnya mengandung nilai-nilai ajaran Islam.